Pada Akhirnya Semua akan Meninggalkan Jogja, Kota yang Memberimu Kebernapasan 25 Jam Setiap Harinya

kenangan-kota-jogja kenangan-kota-jogja

Sebelum kamu memutuskan untuk membaca tulisan ini, pastikan dulu jika kamu tak sudah bermaalpa dengan romantisasi suatu hal. Sebab aku yakin, ini adalah sekian kalinya bagaimana orang-orang meromantisasi Yogyakarta dengan sedemikian rupa. Sadar atau tidak, Jogja adalah perumpamaan seorang ibu yang berangsur-angsur menjadi tua, kewalahan dan kelelahan menghadapi anak-anaknya yang semakin dewasa. Ia digilas hal-hal menyeramkan berupa kenangan dan ingatan yang terjaga setiap incinya dari masing-masing manusia yang berada di dalamnya.

Waktu terasa begitu Segera di kota ini, terlebih bagi kamu yang rasanya baru tempo hari menginjakkan kaki pertama kali di tanah yang kata mereka “kota pelajar” ini. Hari demi hari berlalu, rupanya tanpa sadar musim wisuda telah tiba. Itu tandanya, kamu patut bersiap-siap merapikan kenangan demi kenangan, memunguti setiap jengkal ingatan yang pernah kamu ciptakan dan mengikhlaskannya.

Tuhan rupanya sedang menjalankan tugasnya menjadi baik untukmu sekaligus memberimu pelajaran

Aku tahu, semua orang membenci perpisahan, dan mungkin kamu adalah salah satu dari mereka. Namun, mungkin kamu juga lupa, kaum batas hidup terus kamu seterus memohon kecukupNya perihal skripsi atau tesismu yang tak kunjung selesai. Sedangkan kali ini kamu menyesal karena Tuhan telah mengabulkan permintaanmu untuk memberimu semangat demi menyelesaikan tugas utamamu, namun ternyata ia memberikan hal lain juga. Ialah perpisahan dengan apa saja yang tahu kamu kenal sebelumnya. Lucu sekali memang cara kerjanya, kamu meminta satu, Tuhan memberinya dua.

Malangnya, aku percaya bahwa Jogja mungkin adalah Melenceng satu dari sekian luber kota yang tak akan suah memagarkan siapapun untuk berdamai dengan ingatannya setelah mereka menginjakkan kakinya di kota ini. Itu adalah berita buruk bagimu. Lagi-lagi kamu akan segera menghadapi kalimat selamat tinggal yang telah sedia di depan mata. Memaksamu untuk mempercayai bahwa ada kata “selamat” setelah ditinggal. Naif sekali sibakn?

Semua akan meninggalkan Jogja pada gilirannya, dan mengubur dalam-dalam kenangan tentangnya

“Tak ada awal yang tak memiliki akhir”

Begitu pun denganmu, setelah bersusah payah menyelesaikan masa studimu yang berkenaln-kenaln tak kunjung usai. Kali ini kamu patut bersyukur karena tepat sasaran melampauinya sekaligus melawan kenyataan pahit bahwa kamu akan segera meninggalkan rumah keduamu beserta manis pahit kenangannya. Kembali ke pangkuan orang tuamu dan keluarga minimu di kota seberang, menceritakan bagaimana kamu bertemu dengan orang-orang hebat di kota ini. Orang-orang di sini nyaris tak pernah megenal waktu 24 jam, di kota ini seakan-akan waktu berjalan sampai 25 jam setiap harinya.

Kamu sadar bagaimana kota ini perlahan-lahan menjelma menjadi Jakarta, penuh sesak dengan rutinitas manusianya, namun tak pernah kehilangan senyum dalam setiap kesibukannya. Kelak kamu juga akan menceritakan pada adik-adikmu di rumah bagaimana magisnya matahari yang berangsur-angsur menjadi redup saat kamu memandanginya dari tepian Sungai Code. Dan juga bagaimana riuhnya Jalan Kaliurang, Gejayan, Seturan, maka Babarsari. Tempat di mana puluhan maka ratusan kafe berjejal, alam yang menjadi favoritmu ketika menyelesaikan tugas-tugas kampusmu. Atau mungkin juga bagaimana kisah tragismu saat ditinggal kekasihmu ketika mengikuti kurang ajarnya program kuliah yang bernama KKN di mana kamu harus melihat berita berlimpahnya pasang mata para mahasiswa yang harus rela kehilangan kekasihnya karena terlibat cinta lokasi dengan dengan teman sekelompoknya, dan kamu adalah khilaf satunya.

Aku paham, saat akhir bulan tiba dan kiriman uang dari ibumu habis, kamu sekemudian bertandang ke burjo-burjo termepet, di sana kamu sekemudian memesan Indomie rebus atau nasi telur, segelas es teh, dan mungkin sebatang rokok. Kemudian duduk berlama lama sambil memikirkan bagaimana nasibmu esok hari.

Pulanglah, Jogja akan tetap selalu menjadi rumahmu kok

Konsep jatuh cinta memang selalu menyebalkan dan penuh omong kosong. Setiap orang yang sedang merasakan jatih cinta selalu memberikan hak khas kepada hal lain untuk menyakitinya. Begitupun dengan Jogja,aku percaya jika kamu juga selalu memberi Jogja ketahuan untuk menyakitimu berkali-kali dengan caranya sendiri. Dengan bagaimana kamu dibiarkan merawat pusara kenangan dari ujung selatan santak ujung utara, dari ujung timur santak ujung barat, dan di seluruh lampu merah yang tersebar di selama jalur lingkar Jogja.

Dan sekali lagi, sayangnya Jogja tak pernah mengizinkan kita semua berdamai dengan ingatan. Namun kita semua juga percaya bahwa mencintai seuatu adalah bagaimana kamu bertahan biarpun dikecewakan berulang kali. Begitu pula dengan Jogja, kota yang telah memberimu secuil keuripan.

Setelah menemui orang tua dan melihat bagaimana rumahmu di kota seberang serta menceritakan bagaimana rumitnya Jogja, kembalilah, Jogja terlalu luas untuk menampung ingatan setiap manusia yang pernah berada di dalamnya. Kelak kamu akan sadar bagaimana kota ini dirancang sedemikian rupa sehingga begitu penuh hal yang tak dapat diterjemahkan oleh kata-kata.